Geruduk Kantor Walikota Bekasi, Masa Alumni 212 Gelar Aksi Bela Suherman

oleh -101 views
Aksi masa dari alumni 212 kota Bekasi dan LBH Pelita umat, Jumat (7/9/2018) ba’da sholat Jumat, melakukan unjuk rasa didepan kantor walikota Bekasi, Jl. Jend. Ahmad Yani Kota Bekasi. Mereka menuntut Walikota Bekasi Melindungi Warganya, terkait kasus Suherman dan Shodiqin.

KOTA BEKASI – Sekitar seribu masa dari beberapa elemen yang tergabung dalam Persaudaraan Alumni 212 dan LBH Pelita umat, hari ini, Jumat (7/9/2018) ba’da sholat Jumat, melakukan unjuk rasa didepan kantor walikota Bekasi, Jl. Jend. Ahmad Yani Kota Bekasi. Mereka menuntut Walikota Bekasi Melindungi Warganya, dan menolak dugaan Intervensi hukum.

Salah seorang orator dalam orasinya mengatakan jika kasus yang memimpa Suherman adalah sebuah bentuk kedzaliman yang harus di hentikan dan dilawan.

“Suherman hanya mempertanyakan kebenaran tentang dokumen dugaan dukungan gereja- gereja kepada Rahmat Effendi terkait pilwakot kepada sekitar lima orang melalui Japri di saluran WhatsApp pada beberapa bulan silam, dan sama sekali tidak ada ujaran kebencian didalamnya, dan Suherman memperoleh informasi itu dari orang lain, bukan dirinya yang membuat dokumen tersebut,” teriak sang orator.

Ahmad Khozinudin, Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pelita Umat dalam kesempatan yang sama mengatakan jika aksi bela Suherman sampai jilid III kali ini tidak seharusnya terjadi.

“Aksi ini harusnya tidak perlu terjadi jika saat itu Rahmat Effendi mengambil inisiatif untuk memfasilitasi para pihak sehingga mengambil upaya damai, karena Suherman hanya mempertanyakan tentang dokumen tersebut kepada sekitar lima orang tanpa ada cantion yang mengandung ujaran kebencian”, ungkapnya.

Lebih lanjut Ahmad juga menyapampaikan perihal surat yang dikeluarkan Kapolri bahwa pada pokoknya pada kasus-kasus tertentu bisa diselesaikan secara damai dengan pendekatan restorative justice.

“Sudah kami beritahukan kepada banyak pihak untuk menyelesaikan dengan jalan damai tanpa melanjutkan ke meja hijau. tapi sangat disayangkan proses itu tidak terjadi sehingga proses berjalan sampai saat ini”, katanya.

Seperti diketahui, di beritakan oleh beberapa media, Muhammad Suherman ditangkap dan ditahan aparat kepolisian pada tanggal 26 Juni 2018 atas dugaan tindak pidana ITE berupa penyebaran dokumen foto/gambar terkait dugaan adanya perjanjian tertanggal 25 Desember tahun 2017 antara Drs. H. Rahmat Effendi (Wali Kota Bekasi) dengan Pdt. Joskusport Silalahi, SH (persekutuan Gereja-gereja Indonesia Setempat Kota Bekasi), Romo Yustinus Kasaryanto.Pr (Gereja Dekenat Katolik Bekasi), Pdt. Yohanes Nur,STh (Badan Musyawarah Antar Gereja Lembaga Kristen Indonesia/BAMAGLKKI Kota Bekasi) dan Pdt. Dr. Subagio Sulistyo (Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia/PGPI Kota Bekasi) untuk dukungan Pilkada Walikota Bekasi beberapa bulan yang lalu.

Bukan hanya Suherman, Nama Sodikin juga disebut dalam aksi yang di ikuti oleh santri, ustadz, ustadzah, jama’ah majelis ta’lim, kyai, ulama dan Habaib tersebut. Mereka berdua “Suherman dan Shodiqin” disebut diduga sebagai korban dari sebuah kezaliman. Suherman sendiri disebut sebagai seorang Marbot( pengurus Masjid) disalah satu masjid yang ada di kota Bekasi.

Penulis: M. Dofir Ibrahim