Perjuangan Ahli Waris Mardjuk Bin Naming Atas Tanah Yang Di yakini Sebagai Haknya

oleh -95 views
keluarga ahli waris almarhum Mardjuk bin Naming bersama kuasa hukum, Madsanih Manong (berpakaian hitam), terus melakukan upaya hukum atas tanah seluas 2.850 M2 di Kampung Petir Bulak, RT 008/001, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Banten. Foto : M. Dofir Ibrahim 

KOTA TANGERANG – Bersama dengan kuasa hukumnya, perjuangan untuk mendapatkan kembali hak tanah yang diyakini adalah miliknya, keluarga ahli waris almarhum Mardjuk bin Naming terus melakukan upaya hukum atas tanah seluas 2.850 M2 di Kampung Petir Bulak, RT 008/001, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, yang kini sudah berdiri
komplek mewah.

Kuasa hukum penggugat, Madsanih Manong menjelaskan, pada 1994 ahli waris telah mengajukan dan melaksanakan pengukuran dan memberikan patok batas-batas tanah. Pengukuran dan pematokan itu dikerjakan oleh Badan Pertanahan Tangerang. Namun, sebulan setelahnya, patok-patok tanah tersebut telah dirusak dan hilang.

“Pelanggaran hak para ahli waris sangat jelas karena mereka memiliki surat asli Girik C No. 1151 Persil Nomor: 33 D.III. atas nama Mardjuk bin Naming tertanggal 12 Mei 1972, seluas 2.850 M2. Namun, kemudian ada dugaan pemalsuan dengan keberadaan girik C NO. 1151 persil NO. 33 D.III atas nama Mardjuk Zainudin tertanggal 16 Oktober 1981, Mardjuk Zainudin itu figur fiktif. Pemilik sesungguhnya adalah Mardjuk Bin Naming, ahli warisnya adalah Zainudin, Mani, Mardiah, dan Masiah,” terang Madsanih malalui WhatsApp nya, Jumat 28/9/2018.

Dijelaskan pula oleh Madsanih, jika sebelum keluarnya girik tertanggal 16 Oktober 1981, pada 20 Agustus 1981 Reky Tobing bersama Aspita Aritonang –masing-masing sebagai tergugat satu dan tergugat dua yang saat ini tidak diketahui keberadaannya– bersama Mad Rais selaku Lurah dan Nawar Ilta selaku Camat setempat pada saat itu menerbitkan Surat Keterangan dan Keterangan Tanah No. 74/Agr/Ds/8/1981, Surat Keterangan dan Pernyataan Segel Hilang, Surat Pernyataan Tidak Sangketa, Surat Kuasa untuk Menjual dan Surat Pernyataan.

“Dari situ keluarlah surat girik duplikat, ini jelas perbuatan melanggar hukum. Karena klien kami tidak pernah melakukan transaksi jual beli atau menggadaikan kepada pihak manapun. bahkan sampai tahun 2009 masih membayar PBB-SPPT, dan ahli waris selaku penggugat pun masih memiliki surat Asli Girik C No. 1151 atas nama Mardjuk Bin Naming. Girik ini masih terdaftar dalam arsip Kelurahan buku Leter C.” tegasnya.

Dikatakan pula oleh Madsanih, kalau pada 5 November 2009 pihak ahli waris bersama kuasa hukum pada saat itu telah melakukan peninjauan lapangan bersama Lurah Ketapang Endang Suardi beserta staf ke lokasi lahan saat itu sudah dilakukan pengurugan oleh perusahaan pengembang properti. Pun demikian, pihak ahli waris Mardjuk Bin Naming telah beritikad baik dengan meminta agar permasalahan tersebut diselesaikan secara musyawarah, namun ditolak oleh kedua perusahaan properti.

Berdasarkan fakta-fakta hukum tersebut, Madsanih berharap keadilan bagi para ahli waris dapat ditegakkan, agar tidak menjadi preseden buruk terhadap penegakan hukum.

“kami minta keadilan ditegakkan !. jika tidak maka akan menjadi preseden buruk bagi aparat penegak hukum, bahwa mafia tanah akan selalu menang ketika berhadapan dengan hukum. Kami berharap semua tanah ahli waris dapat dikembalikan, dan para tergugat mendapatkan hukuman,” tandasnya.

 

 

Reporter : M. Dofir Ibrahim