Agar Pertengkaran Tidak Berujung Perceraian, Begini Caranya

oleh -66 views
Sepasang orang tua saat bertengkar di dekat anaknya. KONTEN INDONESIA / Dokumentasi Ilustrasi Istimewa

KONTENINDONESIA.COM – Perbedaan prinsip dan ketidakcocokan kerap menjadi alasan pasangan suami istri untuk mengakhiri sebuah perkawinan. Namun tidak sedikit yang bertanya, mengapa pertengkaran ini bisa terjadi? Apakah perpisahan satu-satunya solusi?

Menurut psikolog keluarga Ajeng Raviando dari Teman Hati Konseling, fenomena ini bisa saja terjadi akibat individu kurang mengenal karakter dirinya sendiri dan pasangan sebelum menikah sehingga kebutuhan pribadi dan pasangan tidak terpenuhi.

“Masing-masing pihak kurang mempersiapkan kematangan diri dan baru menyadari ketidak cocokkan (setelah menikah). Padahal menikah itu butuh kematangan psikologis,” terang Ajeng kepada Tabloid Bintang, pekan lalu.

Solusinya, setiap pasangan harus punya kemampuan mengkomunikasikan kebutuhannya masing-masing. Pasangan juga harus menyadari kelebihan dan kekurangan diri dan pasangannya. Ajeng mencontohkan, terkadang suatu kualitas yang awalnya dianggap sebagai kelebihan pasangan justru menjadi kekurangan setelah menikah.

“Misalnya, pasangan Anda sangat perhatian ketika pacaran, sering nanya sudah makan belum dan lainnya. Setelah menikah, sikap perhatian ini dirasa malah mengganggu,” ujar Ajeng.

Perubahan peran dalam rumah tangga juga bisa memicu konflik. Contohnya, pasangan yang berjiwa petualang. Ketika punya anak, perannya bertambah menjadi seorang ayah atau ibu. Maka kualitas yang dimilikinya harus ikut berubah. Menurut Ajeng, berbagai perubahan ini wajib disadari dan diterima masing-masing pihak.

“Terkadang salah satu pihak merasa pasangannya telah berubah dan tidak sama seperti sebelumnya. Tapi memang sepanjang hubungan justru orang itu terus berubah,” kata Ajeng.

Setiap pasangan juga harus sadar tidak ada orang yang benar-benar cocok. Dengan begitu, toleransi dalam hubungan dibutuhkan. Artinya, menyadari kebutuhan pasangan dan mengesampingkan ego diri sendiri. Setelah itu, melakukan kompromi dengan mempertimbangkan kebutuhan masing-masing.

“Ketika berkonflik, ingat pasangan itu kita yang milih sendiri, ada rasa tanggung jawab atas pilihan kita sendiri,” ucap Ajeng.***

 

 

 

Sumber : Tempo.co