Begini. Bahaya CLBK Dan Cara Menghindarinya

oleh -40 views
Laki-laki yang terlihat sangat mencintai kekasihnya. Konten Jabar / Dokumentasi Ilustrasi Istimewa

KONTENJABAR.COM – CLBK, merupakan empat huruf singkatan dari Cinta Lama Bersemi Kembali atau cinta lama belum kelar, menjadi istilah populer bagi mereka yang belum bisa Move On. Bertemu dengan teman-teman lama tentu menjadi kegiatan yang sangat di rindukan untuk bernostalgia.

Tak jarang, dari pertemuan tersebut membuka kesempatan berbisnis, berbagi pengalaman, juga CLBK. Akibatnya, banyak orang yang tidak setuju pasangannya menghadiri sebuah reuni. Seperti pisau bermata dua, menghadapi persoalan ini pun bergantung pada sudut pandang masing-masing dalam menyikapinya.

Jalan terbaik tentu saja jangan teruskan CLBK sebelum segalanya terlambat. Pikirkan lagi dengan jernih dan hati yang tulus. Cinta seperti itu tak akan berakhir bahagia, justru akan berujung penyesalan dan duka. Begitu penjelasan pakar pengobatan alternatif Cina, Master Wong, dalam bukunya, yang bertajuk A Soul of Healing with Communication and Motivation.

“Buang jauh-jauh cinta lama, jangan biarkan tertanam di hati dan bertunas, lalu tumbuh subur,” demikian tulisan Master Wong. Lihatlah di samping kita, pasangan yang bertahun-tahun setia di sisi, tidak pernah sedetik meninggalkan kita betapapun sulitnya hidup. Ia berjuang bersama kita dan menerima segala kekurangan, dan ia adalah ibu atau ayah anak-anak kita.

Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dan subur. Tapi tidak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali kita belajar mencintai dan bersyukur menerima apa yang telah di jalani dan miliki. Mungkin orang lain pintar dalam menyembunyikan segala kekurangan dalam rumah tangga sehingga semua terlihat baik-baik saja.

Berikut ini, adalah jurus jitu buat yang telah memiliki pasangan untuk menghindari CLBK.

– Hindari acara reuni kecuali datang dengan pasangan.

– Hindari pertemuan yang kurang bermanfaat.

– Hindari godaan dari mantan atau teman di media sosial.

– Selalu menjaga perasaan pasangan karena sebuah pernikahan membutuhkan komunikasi dan kompromi.***

(Deni)

 

 

Tempo.co