Solusi Pelajar Nakal, Dedeh: Guru Harus Bisa Jadi Pendidik, Teman Dan Orangtua!

oleh -85 views
Kepala Sekolah SMPN 7 Purwakarta, Dedeh M Maemunah

PURWAKARTA- Kenakalan pelajar sering membuat kita pusing karena sekolah tempat pelajar tersebut dididik akan dianggap sebagai sekolah yang tidak mampu mendidik khususnya dalam mengatasi persoalan kenakalan.

Masalah kenakalan pelajar yang sampai tersebar di eksternal sekolah seringkali membuat pihak sekolah langsung saja mengeluarkan murid, karena dianggap telah mencoreng nama baik sekolah termasuk argumen tidak sanggup lagi mendidik murid nakal tersebut. Meskipun ada juga yang menilai jika kenakalan murid merupakan tantangan bagi pengajar untuk terus berinovasi mencari jalan keluarnya, karena setiap penyakit pasti ada obatnya.

Seperti dituturkan oleh kepala sekolah SMPN 7 Purwakarta, Dedeh M Maemunah, yang mengatakan jika guru harus multi.

“Guru harus multi, bisa menjadi pendidik, teman dan orang tua, karena dengan itu kita bisa mendeteksi segala perkembangan murid”, beber Dedeh, saat diminta komentarnya terkait penanganan kenakalan pelajar, rabu (16/1/2019), di kantornya.

“Persoalan kenakalan pelajar, lanjut Dedeh, harus detail dicari penyebabnya, perlu identifikasi, ditangani secara persuasif mulai tinggal dimana bersama siapa, termasuk sampai pada pertanyaan apakah orang tuanya masih ada, utuh serta lainnya. Karena ada juga pelajar yang ternyata hanya tinggal bersama neneknya karena orang tuanya berpisah atau meninggal, jadi intinya rata-rata persoalan mereka adalah kurangnya perhatian, kurang kasih sayang”, jelas Dedeh.

Salah satu bentuk kegiatan belajar mengajar di SMPN 7 Purwakarta ‘Belajar diluar ruang kelas’.

Dedeh pun menceritakan pengalamannya dulu saat dirinya menjadi pengajar dan menangani pelajar nakal.

“Pernah dulu saat masih mengajar saya diminta membina pelajar nakal, disitu saya kumpulkan satu kelas yang semua adalah murid nakal. Alhamdulillha hasilnya dengan sabar, kontinew, konsisten, mereka bisa berubah menjadi berprestasi dalam bidang non akademik, bahkan mengalahkan pelajar kelas lainnya”, urainya.

Mendidik Dedeh katakan memang butuh keteladanan dan ketelatenan, karena selain butuh waktu yang tidak sebentar, guru harus mencari inovasi agar murid dapat nyaman dan semangat untuk bisa berubah.

“Kalau kasar mereka bisa jadi semakin brutal bahkan khawatir akan dendam, apapun bentuknya harus dengan cara bijaksana, kan intinya bagaimana mereka bisa berubah baik, kalau mereka senang dengan apa yang kita sampaikan, kita berikan perhatian, saya yakin cepat atau lambat mereka akan berubah. Karena keberhasilan seorang pengajar menurut saya bisa dilihat sejauh mana prestasi murid, baik akhlaqnya, akademik non akademiknya, dibuktikan sejauh mana dapat menjadikan yang tidak baik menjadi baik, yang baik menjadi lebih baik”, ungkapnya.

Masa sekolah Dede kemukakan adalah masalah pancaroba, masa transisi yang semua perlu pendampingan dan pembinaan.

“Masa SMP adalah pancaroba. Masa transisi dari usia anak menuju remaja, mereka serba ingin mencoba. Sedangkan masa SMA itu pancaroba dari remaja menuju dewasa, nah…untuk itu harus kita terus dampingi, kita terus bina”, katanya.

Dengan guru terus berinovasi, Dedeh juga katakan bahwa setiap kekurangan akan bisa menjadi kelebihan.

“Saya terus mempelajari, bagaimana kekurangan bisa menjadi kelebihan. Penanganan murid nakal harus kita dahulu sebagai keluarga yang menangani, karena kita yang lebih tahu keadaan lingkungan kita. pertama harus mendapat penanganan dari wali kelas, kalau tidak bisa lanjut naik ke kesiswaan, tetap tidak bisa lanjut ke BP dan kepala sekolah, tetap tidak bisa ya lanjut lagi keatas, itupun kalau memang kita benar- benar sudah tidak mampu. Karena mendidik itu tidak terbatas, beda dengan mengajar. Tegasnya.

Mengakhiri pembicaraan, Dedeh menegaskan jika mendidik harus dengan kasih sayang dan perasaan.

“Galak menurut jangan sampai, tetapi tegas itu harus, kontinew, konsisten, dengan kasih sayang, dengan perasaan, dan jangan lupa mendoakan! , karena semua anak adalah anak kita”, pungkasnya. (MDI)