Bom Bunuh Diri Di Kampung Melayu Jakarta, Diduga Terkait ISIS Filipina

oleh -37 views
Sejumlah anggota Kepolisian saat mengawal proses penggeledahan terkait bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta timur, beberapa waktu lalu. Beberapa terduga di amankan polisi. Konten Jabar / Jabar Ekspres

BANDUNG – Teror bom bunuh diri yang terjadi di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, pada Rabu 24 Mei 2017 malam lalu, di prediksi dan di perkirakan ada korelasinya dari dampak darurat militer yang di tetapkan Presiden Filipina Rodrigo Duterte di Pulau Mindanao.

Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR-RI Tubagus Hasanuddin, kebijakan Presiden Filipina Rodrigo Duterte terkait pemberlakuan darurat militer di Pulau Mindanao akibat baku tembak antara Tentara dan kelompok ISIS di kota Marawi pada Selasa 23 Mei 2017 malam, telah menyebabkan ruang gerak kelompok militan ISIS tersebut menjadi terbatas. Akibatnya, kelompok  pendukung ISIS di Indonesia memunculkan eksistensinya, mengumumkan kepada dunia Internasional bahwa ISIS ada juga di Indonesia.

“Pemberlakuan darurat militer di Pulau Mindanao oleh Presiden Duterte harus di cermati pemerintah Indonesia. Apalagi Filipina berbatasan langsung dengan Indonesia,” kata Hasanudin, pada Senin 29 Mei 2017 kemarin.

Hasanudin berpandangan, bahwa kelompok militan ISIS di Filipina memiliki korelasi yang kuat dengan kelompok militan di Indonesia. Sehingga akan sangat mudah mendapatkan akses untuk masuk ke Indonesia.

“Indikasi adanya korelasi kelompok ISIS di Filipina dengan kelompok militan di Indonesia bisa di lihat dari adanya tiga WNI terafiliasi ISIS yang tewas dalam bentrokan bersenjata melawan militer Filipina di Pulau Mindanao pada April 2017 silam,” katanya.

Untuk itu, Hasanuddin mengimbau, Pemerintah harus menjalankan empat langkah dalam mengantisipasi aksi teror yang di lakuan kelompok ISIS. Pertama, pihak imigrasi harus meningkatkan pengawasan terhadap warga negara asing yang masuk ke wilayah Indonesia, dan juga warga negara Indonesia yang kembali ke Tanah Air.

“Pihak imigrasi harus meningkatkan pengawasan terhadap warga negara asing yang masuk Indonesia, dan juga WNI yang kembali ke Tanah Air,” imbuhnya.

Selain itu, di katakan Hasanudin, aparat intelijen harus aktif bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk melakukan pengawasan wilayah, terutama lokasi yang patut di curigai sebagai tempat persembunyian dan latihan perang para combatan ISIS.***

Deni

 

 

Jabar Ekspres