Rencana Pembangunan Kantor Damkar Jakarta Timur Dinilai Bermasalah

oleh -167 views
Marao S Hasibuan, Direktur Eksekutif Setgab LSM- PELOPOR yang mengomandoi PAMSUS33 LSM- PELOPOR Law Office selaku sala seorang  Kuasa Hukum Penggugat (kanan), saat berdebat diarea lahan tersebut dengan pihak dari Pemda DKI Jakata. Minggu, 22/07/2018. KONTEN INDONESIA / Wesly H Sihombing 

JAKARTA – Rencana Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakata yang akan membangun Gedung Kantor Sudin Pemadam Kebakaran (Damkar) Jakarta Timur, diatas tanah seluas 11.021 M2, diduga menuai masalah. Pasalnya, Rencana pembangunan yang berada di ujung Huk Jalan Pemuda, Prapatan Lampu Merah, Jalan Jenderal Ahmad Yani, By Pass, termasuk RT 001/014, Kelurahan Rawamangun, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur (Jaktim) itu, lahannya telah dilelang dgn Nomor Kode : 34541127, dengan nilai pagu paket Rp.69.435.651.622.00. Ungkap Mustika Sani SH, salah seorang Kuasa Hukum Ahli Waris H. Achmad Bin H. Kosim, saat konferensi pers di Sekretrariat PAMSUS33 LSM-PELOPOR, Jalan Rawajati Timur I, Rawajati, Jakarta Selatan. Minggu, 22/07/2018.

Mustika menjelaskan, pelaksanaan Konstruksi Pembangunan Gedung Damkar dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2018 itu, diduga tanahnya bermasalah. Karena hingga saat ini tanah seluas 11.021 M2 tersebut, statusnya masih absah, yakni milik H. Achmad Bin H. Kosim berikut M. Napis Bin H. Asmuni, sebagai Ahli Waris atau cucu dari H. Muhamad Zen, yang merupakan tanah rest (sisa) EV Nomor 5729, dengan Surat Ukur / Meetbrief No. 1844, yang resmi tercatat di Balai Harta Peninggalan (BHP) DKI Jakarta, dan juga terdaftar di buku register Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi DKI Jakarta.

“Semasa Orangtua H. Achmad dan M. Napis masih hidup, sebagian tanah tersebut seluas 8.600 M2 diurus dan dijaga oleh atas nama Supardjo, sebagai penanggung jawab terhadap 49 Kepala Keluarga yang mengontrak sejak tahun 1978. Sementara, berdasarkan penelusuran Tim Investigasi PAMSUS33 LSM- PELOPOR, Pemda DKI Jakarta diketahui seakan telah membeli tanah tersebut untuk Pembangunan Gedung Damkar Jaktim. Padahal, tanah yang dibeli oleh Pemda DKI Jakarta letak tanahnya bukan di Lokasi tanah tersebut, melainkan Pemda DKI Jakarta telah membeli tanah seluas 11. 021 M2, dalam 2 Sertifikat atas nama Liem Mie Bo, Seritifikat No. 01880, seluas 8.511 M2, terletak di RT 011/011, Kelurahan Rawamangun, Kecamatan Pulogadung, Jaktim, dan juga Sertifikat No. 01508, seluas 1.309 M2, terletak di RT 001/002, Kelurahan Rawamangun, Kecamatan Pulogadung, Jaktim, beralaskan dasar kepemilikannya EV Nomor. 15550.” Jelas Mustika Sani SH.

Berdasarkan fakta legalitas tersebut, dikatakan Mustika, menunjukkan bahwa tanah milik H. Achmad Bin H. Kosim dan M. Napis Bin H. Asmuni, telah diserobot dan digunakan secara melawan hukum. Oleh karena itu, pihak mereka sengaja mengajukan gugatan sebagai Penggugat Perbuatan Melawan Hukum melalui Pengadilan Negeri (PN) Jaktim, dengan Nomor Perkara : 281/Pdt.6/2018/PN. JKT Tim, terhadap Lie Mie Bo (Tergugat I) dan Kepala Dinas Damkar Jaktim (Tergugat III). Katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Setgab LSM- PELOPOR, Marao S Hasibuan, yang mengkomandani PAMSUS33 LSM- PELOPOR Law Office selaku Kuasa Hukum Penggugat juga mengatakan, memang begitulah adanya, kami sudah beberapa kali memberikan peringatan melalui surat (Somasi) kepada Damkar Jaktim maupun Pemda DKI Jakarta, namun tidak pernah ditanggapi. Jadi, demi membela warga yang sangat dirugikan terkait tanahnya diserobot itu, terpaksa kami menepuh jalur hukum sebagai upaya penyelesaian permasalahan tersebut.

“Law Office Pamsus33 Pelopor, memang kami bentuk khusus untuk memperjuangkan tanah rakyat yang diserobot oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, baik itu perseorangan, swasta, maupun oleh campur tangan oknum Pejabat Pemerintah. Insya Allah, kami Pamsus33 Pelopor akan maju terus, dan Sidang selanjutnya atas perkara tersebut akan dilaksanakan pada hari Kamis, 26 Juli 2018 ini,” ucap Marao.

Hingga berita ini diturunkan, belum mendapat hasil konfirmasi dari pihak-pihak Instansi terkait.

 

 

 

Sumber : LSM Pelopor / Wesly H Sihombing
Editor    : Deni