Setelah Mengantarkan Anaknya Sekolah, Wartawan Ini Di Bunuh Orang Tak Di Kenal

oleh -62 views
Pembunuhan terhadap korban awak media (Wartawan) dengan beberapa tusukan. Konten Jabar / Dokumen Ilustrasi Istimewa

MEDAN- Kekerasan terhadap awak media (Wartawan) kembali terjadi. Kali ini, kekerasan tersebut menimpa Amran Parulian Simanjuntak (36), yang merupakan seorang wartawan dari salah satu Surat Kabar Mingguan Umum yang bertugas di Binjai. Korban yakni Amran Parulian tersebut, tewas akibat di tusuk orang tak di kenal sebanyak enam kali tusukan di perut, dada, dan di punggungnya, pada Rabu 29 Maret 2017.

Peristiwa tersebut yang sangat menghebohkan masyarakat dan juga kalangan para jurnalis, terjadi di area kilometer 13,5 Jl. Medan – Binjai. Amran di bunuh setelah mengantar anaknya ke sekolah Taman Kanak – Kanak (TK). Amran di bunuh di lokasi tak jauh dari lokasi sekolah anaknya, yang di duga karena terkait dengan pemberitaan.

“Sebelum kejadian pembunuhan itu, Amran mendapat telepon gelap (Tak di kenal). Dia menerima ancaman dari orang tak kami kenal. Kami berkeyakinan, dia mengenal orang yang menghabisinya,” ucap kakak kandung korban, Renova Simanjuntak di Rumah Sakit Bhayangkara Medan.

Renova mengetahui bahwa adiknya mendapatkan ancaman setelah mendapatkan penjelasan dari keluarganya. Sayangnya, korban tidak memberitahukan pengancaman itu kepada keluarga. Setiap di tanya, korban menjawab semasa hidupnya, menjelaskan tidak ada masalah yang berarti.

“Motifnya belum jelas. Kami berkeyakinan, korban sudah di buntuti dari kejauhan. Kemudian, setelah mengantarkan anaknya sekolah, langsung di tikam. Pelakunya di duga lebih dari satu orang. Kami berharap, aparat dengan segera dapat mengungkap kasus pembunuhan adik kami ini,” kata Renova.

Menurutnya, ancaman terhadap korban terjadi pada Senin 27 Maret 2017. Selain itu, Amran juga sempat di hadang oleh sekelompok orang saat melakukan peliputan di lapangan. Sayangnya, masalah itu pun tidak di ceritakan korban kepada keluarganya.

Beberapa hari sebelumnya, seorang wartawan i-News TV, Adi Palapa Harahap, juga di aniaya sekelompok orang yang di duga melibatkan oknum aparat di Belawan. Bahkan, oknum aparat itu juga turut melakukan pengancaman. Kekerasan ini terjadi karena terkait pemberitaan.

Ketua Pengurus Daerah Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumut, Budiman Amin Tanjung mengharapkan, Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Danlantamal) I Belawan menindak anggotanya yang di duga terlibat penganiayaan terhadap Adi Palapa Harahap.

“Oknum aparat itu seharusnya mengayomi dan melindungi masyarakat. Bukan mengintimidasi, mengancam apalagi sampai terlibat melakukan kekerasan. Jika tidak puas dengan pemberitaan seharusnya mengadu ke dewan pers, atau membuat pernyataan bantahan. Oknum aparat itu harus di tindak,” tegasnya.

Budiman mengemukakan hal itu saat melakukan aksi damai menolak kekerasan terhadap wartawan. Aksi demo itu melibatkan berbagai organisasi wartawan. Di antaranya, Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Jurnalistik Televisi Indonesia, dan lainnya.

Penasihat Aliansi Media Cyber Indonesia (AMCI) Sumut, Amrizal juga mengatakan, banyak kasus kekerasan yang menimpa wartawan belakangan ini. Apalagi, pelaku kekerasan melibatkan oknum aparat. Kejadian seperti ini tidak seharusnya di biarkan terjadi sampai berkali-kali.

“Kami meminta kepada setiap pimpinan aparat di pusat dan daerah agar mengambil sikap yang tegas dalam menindak bawahannya yang melakukan kekerasan tersebut. Tindakan tegas ini di perlukan agar membawa efek jera kepada aparat lain. Sehingga, kekerasan itu tidak terjadi lagi,” sebutnya.

Pertengahan bulan Maret kemarin, puluhan wartawan dari media cetak dan elektronik melakukan aksi demo di Kantor Gubernur Sumut Jl. Diponegoro Medan, Rabu 13 Maret 2017. Mereka menuntut Gubernur Sumut, Tengku Erry Nuradi untuk memecat oknum petugas Satpol PP yang melakukan kekerasan terhadap wartawan di halaman kantor pemerintahan tersebut.

Aksi damai yang di lakukan para jurnalis itu, juga menuntut orang nomor satu di Sumut itu untuk segera mencopot Kepala Satpol PP yang di anggap tidak mampu mengayomi oknum petugas pelaku penganiayaan terhadap beberapa orang wartawan. Apalagi, kekerasan itu karena oknum itu tidak senang di nasihati seorang wartawan.

Kekerasan terjadi setelah wartawan selesai melakukan peliputan di kantor pemerintahan tersebut. Tidak hanya wartawan yang menasihati, wartawan yang melerai juga menjadi sasaran penganiayaan oknum Satpol PP itu. Dua wartawan yang menjadi korban yakni, Benny Pasaribu dari media Medan Bisnis dan Edison Tamba dari media Bumantata.***

Deni

 

 

Suara Pembaruan