Terjadi Penganiayaan Hingga Ancaman Pembunuhan Terhadap Wartawan, FPII Angkat Bicara

oleh -71 views
Banner yang berisi Ketua Presidium FPII, Kasihhati, dan Logo FPII berikut ungkapan mengutuk keras kekerasan pada wartawan. Foto : Istimewa
Banner yang berisi Ketua Presidium FPII, Kasihhati, dan Logo FPII berikut ungkapan mengutuk keras kekerasan pada wartawan. Foto : Istimewa

BANDAR LAMPUNG -Seorang Awak Media (Wartawan) bernama Dian Saputra (25), warga Pekon Terbaya, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Bandar Lampung, yang merupakan wartawan dari media Harian Detik Tanggamus, masih dalam keadaan trauma. Sebelumnya, Dian Saputra mengaku dianiaya oleh salah seorang oknum Banit Reskrim Polsek Kota Agung, Brigpol berinisial ER, dari mulai di maki-maki, dicekik hingga berkali kali ditodong senjata api (pistol).

Dian Saputra mengatakan, Saya sama sekali tidak mengenal oknum polisi yang bertugas sebagai Banit Reskrim Polsek Kota Agung itu. Karena memang Saya tidak ada hubungan dengan oknum polisi tersebut.

“Kronologis kejadianya pada hari Rabu 15/5/2019, saat itu Saya sedang berada di ruangan Kantor SDN 2 Pasar Madang, Kota Agung, dalam rangka menjalankan tugas Jurnalis. Tiba-tiba oknum kepolisian Polsek Kota Agung itu datang dan langsung melontarkan kata-kata kasar hingga menganiaya dan mengancam Saya.” ungkap Dian, seperti pada rilis resmi yang dibuat FPII Setwil Lampung.

Dian menerangkan, selain melontarkan kata-kata kasar yang tidak pantas, oknum polisi tersebut berulang kali menodongkan senjata api ke arah Saya.

“Wooyy!!! beruuk kamu hah!!! babi kamu!!! Saya tembak kamu nanti ya. Kata oknum polisi itu, sembari beberapa kali mengarahkan senjata api berupa pistol pribadinya ke arah Saya. Selain menodongkan senjata api, oknum polisi tersebut juga beberapa kali mencekik leher Saya, lalu oknum polisi itu bilang, Saya Ando, Kapolsek Kota Agung, anaknya Jupri. kata Dian.

Menurutnya, Kepala sekolah SD 2 Pasar Madang, Rosminati, kemungkinan mengadu kepada oknum polisi tersebut, terkait kedatangan Saya untuk melaksanakan tugas jurnalis. Sehingga dia (Kepala Sekolah) bersama keluarag besar termasuk oknum polisi itu, melakukn penganiayaan kepada Saya.

Menanggapi kejadian tersebut, Ketua Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Sekretariat Wilayah (Setwil) Lampung, Aminudin, mengutuk keras terkait adanya kekerasan dan pengancaman pembunuhan dengan senjata api, yang dilakukan oknum polisi tersebut.

“Saya memohon kepada Propam Polres Kabupaten Tanggamus, untuk segera menindak lanjuti laporan pengaduan Dian Saputra, dan juga agar segera memproses oknum polisi polsek Kota Agung, Brigpol berinisial ER, berikut kepala sekolah terkait berinisial R. Dan juga, ijin penggunaan senjata apinya juga agar ditarik saja.” katanya.

Sebelumnya, Aminudin berujar, akibat tidak terima dimaki-maki, dicekik hingga diancam oleh oknum anggota Polisi yang merupakan Bintara Unit Reskrim Polsek Kota Agung, Polres Tanggamus itu, Wartawan Harian Detik Tanggamus, Dian Saputra melaporkan hal penganiayaan yang dialaminya ke Propam Polres Tanggamus, pada Rabu 15/05/2019 sekitar pukul 13.00.

“Dalam laporannya yang bernomor : STPL/02 IV/2019 Korban atas nama Dian Saputra, Wartawan Harian Detik Tanggamus, warga Pekon Terbaya, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, melaporkan tentang terjadinya peristiwa pelanggaran yang diduga dilakukan oleh Anggota Polri atas nama Brigpol Edwin Renando, Jabatan Banit Reskrim V Kota Agung, Polres Tanggamus.” terang Aminudin.

Menurut Aminudin, pihak penegak hukum dapat menjerat oknum polisi tersebut dengan pasal berlapis, antara lain KUHP pasal 335 tentang perbuatan tidak menyenangkan, pasal 351 terkait penganiayaan, serta undang – undang darurat No 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman mati, seumur hidup atau minimal 20 tahun Penjara.

“Selain itu, oknum polisi koboy tersebut bisa dijerat dengan Undang-undang No 40 Tahun 1999 tentang PERS. Dalam ketentuan pidana pasal 18 UU no 40 Tahun 1999 dikatakan, setiap orang melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang dapat menghambat atau menghalangi tugas Jurnalistik saat mencari dan memperoleh informasi, dapat dipidana dengan pidana kurungan 2 tahun penjara atau denda RP 500.000.000.” ujarnya. ***

 

Editor : Deni

Sumber : Setwil FPII Lampung