Catatan Akhir Tahun 2016 : Bencana Ditanah Legenda, Ini Salah Siapa ?

oleh -56 views
Banjir Bandang 20 September 2016. Konten Jabar / Foto Hens Pradhana.
Banjir Bandang 20 September 2016. Konten Jabar / Foto Hens Pradhana.

GARUT – Tahun 2016 bisa dikatakan tahun dengan kenangan terpahit bagi masyarakat Kabupaten Garut, Jawa Barat. Hari Selasa, 20 September 2016, sebuah tragedi yang tidak mungkin dilupakan, Banjir bandang terbesar dalam sejarah Kabupaten Garut melanda tujuh kecamatan yang berada di sepanjang aliran sungai Cimanuk yang terdapat di Kota Dodol ini.

Bagaikan tsunami kecil, air meluncur dan melumat apa saja yang dilewati, meluncur deras menyapu ribuan rumah yang berada dipinggir sungai, sebanyak 35 nyawa melayang sia-sia, 19 orang hingga kini hilang dan tak ditemukan, dan 35 orang terluka. Lebih dari 2.500 warga mengungsi. Banjir menyapu 2.511 rumah dengan jumlah rumah rusak parah sebanyak 858 rumah. Banjir bandang ini pun merupakan salah satu tragedi paling menonjol tahun ini bagi warga Garut.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 574 kejadian banjir di Indonesia sepanjang Tahun 2016. Jumlah itu terbesar dibandingkan dengan jenis bencana lain, seperti puting beliung (446 kejadian), tanah longsor (382), kebakaran hutan dan lahan (168), banjir disertai tanah longsor (46), gelombang pasang (19), gempa bumi (10), dan letusan gunung api (7).

Sementara itu. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat debit air mencapai 905 meter kubik per detik. Normalnya, aliran Sungai Cimanuk 605 meter kubik per detik. Debit air semakin besar karena tak lama sebelum kejadian, curah hujan di Gunung Papandayan 255 milimeter per hari. Padahal, biasanya hanya 50 milimeter per hari. Paling besar pun hanya 100 milimeter per hari.

Menurut korban yang selamat dan menyaksikan secara langsung tragedi itu, dalam hitungan dua menit air sudah setinggi satu meter. Tak sampai lima menit, air sudah menyulap atap rumah jadi tak terlihat. Sebagian dari mereka mengaku trauma tinggal di pinggir sungai. Mereka berharap pemerintah merelokasi merekai ke tempat yang lebih aman.

Bupati Garut Rudy Gunawan menuding perilaku buruk warga yang kerap melakukan illegal logging (penebangan pohon) di hulu sungai, paling bertanggung jawab melahirkan musibah banjir bandang. Dia menunjukkan fakta jika hulu Sungai Cimanuk sudah langka hutan. Kawasan hulu sungai didominasi oleh deretan warna hijau muda yang menandakan kawasan itu bukan lagi sebuah hutan, melainkani kebun tanaman holtikultura milik warga. Kebun itu terhampar di kemiringan 45 derajat di kawasan hulu Sungai Cimanuk.

Sudut pandang lain disampaikan Deputi Penanggulangan Darurat Bencana BNPB, Tri Budiarto. Tri melihat banjir bandang di Kabupaten Garut tercipta karena pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) yang buruk. Ia pun meminta pemerintah daerah memperhatikan persoalan DAS di masa mendatang. Tri menegaskan kawasan hulu Sungai Cimanuk mutlak harus lebat. Pemerintah harus berupaya sedemikian rupa untuk segera menghijaukan kembali kawasan hulu.

“Berdasarkan teori ekologi, penyebab banjir di Garut ini karena antara kapasitas sungai dengan air yang masuk, tak seimbang,” katanya.

Pandangan lain disampaikan juga Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Walhi mengklaim sudah mewanti-wanti bakal terjadi bencana banjir di sekitar DAS Cimanuk sejak 20 tahun silam. Hasil pantauan Walhi di lapangan menemukan adanya perubahan tata guna lahan yang luar biasa. Menurutnya, pemerintah telah melanggar rencana tata ruang wilayahnya sendiri dengan tak mempertahankan kawasan hutan lindung minimal 83 persen.

“Sejak 2002 kami sudah menemukan fakta ada perubahan tata guna lahan. Ini sangat kentara dari citra landsat (gambaran permukaan bumi yang diambil dari luar angkasa), dan sayangnya kita melihat, kebijakan bupati tak mendukung ke arah itu,” ujar Ketua Walhi Jabar Dadan Ramdan.

Sejak 14 tahun lalu Dadan mengaku sudah berteriak-teriak mengenai persoalan ini. Tetap tak digubris. Kawasan pariwisata justru makin menjamur. Bangunan-bangunan di pinggir sungai terus tumbuh. Walhi mendata, luasan hutan di wilayah Bayongbong, Cikajang, Pasirwangi, Gunung Cikurai, Guntur, dan Darajat, berkurang drastis.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat luas hulu di DAS Cimanuk 60 ribu hektare. DAS ini dikelilingi Gunung Papandayan, Cikuray, dan Guntur. Semua air bermuara ke Sungai Cimanuk. Dari luasan itu, segmentasi cukup tinggi karena tutupan lahan kurang dan berada di kemiringan hingga 45 persen. Tingginya sedimentasi disumbang luasnya kebun holtikultura di hulu sub-DAS Cimanuk yang mencapai 28.777 hektare atau hampir setengah luas hulu sungai.

Fakta lain, dilihat dari geomorfologi dan topografi, jarak antara daerah lereng dan lembah sangat dekat. Saat terjadi hujan deras, air seperti disekap dan meluncur sangat cepat. Sampai akhirnya momentum itu terjadi. Hujan deras mengguyur hulu Sungai Cimanuk, tepatnya di sekitar Gunung Papandayan, Selasa malam 20 September. Curah hujan mencapai 255 milimeter. Dua setengah kali lipat lipat curah hujan normal.

Debit air sungai kemudian naik mencapai 905 meter kubik per detik. Jauh melampaui debit normal 605 meter kubik per detik. Dalam hitungan jam, air meluncur bak peluru ke hilir. Di pagi buta, air menemukan muaranya. Ratusan rumah luluh lantak, puluhan orang tewas. Garut berduka, Duka ini kembali mengabarkan berita penting: manusia harus bersahabat dengan alam sebagai tempat hidup, bukan mengekspolitasinya.

Editor : Hens Pradhana