Kejadian Krisis Moneter, Masih Jadi Benak Ketakutan Masyarakat Indonesia

oleh -40 views
Foto Ilusi Krismon 1998 : Media Tipsiana
Foto Ilusi Krismon 1998 : Media Tipsiana

Kabupaten Bandung – Usaha Kecil Menengah (UKM) yang merupakan kemandirian ekonomi Pada tahun 1997, sejumlah Negara di Asia termasuk Indonesia mengalami krisis ekonomi yang dalam. Berbagai Industri besar dan sejumlah Perusahaan Perbankan, Otomotif, Properti dan lain sebagainya mengalami kebangkrutan yang berdampak ke arah Pemutusan hubungan kerja (PHK). ucap salah seorang Aktivis 1997, yang tak mau di publikasikan namanya

Menurut Ia, Kemungkinan krisis ekonomi pada tahun 1997 saat itu, dapat dikatakan sebagai krisis yang paling buruk yang pernah di alami Indonesia paska kemerdekaan. Berbagai fktor melatarbelakangi terjadinya krisis yang sampai memicu pada krisis politik, dan jatuhnya rezim Orde Baru Soeharto.

Nilai tukar rupiah merosot dengan cepat dan sampai pada titik yang krusial mencapai Rp 13000 rupiah, dari sebelumnya hanya Rp 2400 rupiah, Inflasi meningkat tajam, kredit macet dan semakin terpuruk karena permintaan akan dolar juga semakin tinggi. Hutang luar negeri baik swasta maupun negara, berdampak pada nilai pembayaran utang yang melonjak, serta berbagai faktor lainnya.

Krisis ekonomi yang di picu oleh masalah Moneter (keuangan), kemudian di kenal banyak dengan sebutan Krismon yang membenak di Warga Masyarakat, menjadi salah satu sosok kata yang menakutkan untuk terulang kembali.
Ketika negara begitu kerepotan mengatasi persoalan Krismon itu, sementara industri-industri besar yang selama ini di jadikan topangan ekonomi Negara, sehingga pada saat itu berubah menjadi beban yang berat bagi Negara.

Ternyata,,, Sektor ekonomi kecil menengah yang kerap luput dari perhatian pemerintah, justru mampu bertahan hidup dan menjadi penompang kehidupan bagi Warga Masyarakat kelas bawah, untuk dapat bertahan hidup pada situasi krismon. Sektor-sektor usaha kecil menengah seperti pertanian, pengolahan, perdagangan, rumah makan dan hotel, serta berbagai sektor usaha lainnya mampu dan terbukti bertahan pada berbagai ‘cuaca’ ekonomi di Negara Indonesia.
Tak terkecuali ketika krisis global yang juga terjadi pada tahun 2008, jenis usaha ini tak menggantung modal dari pinjaman bank, sehingga ketika bank mengalami krisis pada tahun 1997, dampaknya juga tak begitu di rasakan pada sektor ini, dan juga tidak ada hutang luar negeri, dengan bahan baku yang di butuhkan untuk produksi, yang tidak bergantung pada impor.
Tak hanya itu,,, Skala yang kecil memungkinkan bagi Warga Masyarakat baik secara individu maupun secara kolektif, bisa memulai usahanya kapan saja, dari mulai berbagai bahan baku lokal, serta Produknya dari usaha ini yang banyak menyasar pada ekspor, sehingga menjadi titik yang membedakan dengan industri-industri besar lainnya.

Ketegaran usaha kecil menengah dalam menghadapi krismon, bukan saja bermanfaat bagi Warga Masyarakat untuk dapat bertahan hidup, Namun justru memberikan bantuan bagi negara, dengan sumbangan produk bruto, perputaran uang, sampai dengan serapan tenaga kerja. Mungkin saja, dapat di katakan bahwa Usaha Kecil Menengah (UKM) ini adalah bentuk nyata dari konsepsi tentang kemandirian ekonomi, ditengah berbagai wacana tentang bagaimana Negara harus mampu membangun kekuatan ekonominya secara mandiri, dan juga tak mudah di intervensi oleh kepentingan Negara Asing, Warga Masyarakat Indonesia melalui usaha kecil menengah, justru telah mempraktekan wacana-wacana dari para ahli ekonomi. Tak banyak bicara, namun menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat luas.

Atas sumbangsih sejarahnya bagi ekonomi nasional, maka sepantasnya bahwa Negara mulai memberikan perhatian yang lebih serius bagi sektor usaha kecil menengah, bukan untuk membalas budi atas jasanya yang mempertahankan ekonomi nasional, tapi sebagai bentuk dorongan atas nama mewujudkan ekonomi nasional yang mandiri. (Supriyanto)