Antasari Azhar Di Gadang-Gadangi Jadi Ketum PSSI

oleh -443 views
Amustofa Besan, Pengurus atau Ketua PSSI Kabupaten Buru. Foto : Presidium FPII

JAKARTA – Kosongnya posisi Ketua Umum (Ketum) di Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), banyak menuai pro dan kontra. Bahkan posisi Pelaksanaan Tugas (Plt) Ketum PSSI yang saat ini dijabat oleh Iwan Budianto, diduga belum menunjukkan perubahan secara mnyeluruh hingga ke tingkat daerah (Kabupaten), sehingga terkesan hanya kepentingan daerah tertentu saja.

Contohnya di Kabupaten Buru, yang mana di wilayah tersebut pernah menciptkan pemain-pemain sepak bola Skala Nasional yang merupakan tim PSSI yang handal, seprti Salem Alkatiri, yang pernh dikirim ke Braszil. Ely Idris, yang mengakhiri masa pensiunnya di sepak bola Indonesia, dan bnyak lagi pemain-pemain dari daerah Kabupaten Buru yang berada di beberapa club di daerah jawa dan sulawesi.

Hal ini mendapat sorotan cukup tajam dari Amustofa Besan, Pengurus atau Ketua PSSI tingkat Kabupaten Buru, kami dari pengurus kabupaten sangat mengharapkan sekali sosok ketua umum PSSI yang bisa mengayomi kami, dan bahkan berani bertindak. Tidak terlibat mafia serta bebas dari segala masalah hukuman.

“Sosok seperti ini terlihat ada di diri Antasari Azhar, dimana mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut, berani dalam bertindak dan menghancurkan para koruptor,” ungkap Amustofa Besan, kepada awak media belum lama ini.

Kalau melihat akan digelarnya KLB PSSI yang akan digelar pada bulan Juli tahun ini tanpa adanya pemilihan Ketua Umum, Saya lihat akan menambah suram PSSI, dan pastinya akan dikuasai oleh oknum-oknum yang ada.

“Dalam kesempatan ini, Saya juga menghimbau kepada seluruh voters untuk satu suara dalam KLB untuk memilih Ketua Umum, yaitu Antasari Azhar, untuk perubahan PSSI.” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, belum mendapat tanggapan resmi dari pihak terkait yakni Plt Ketum PSSI, Iwan Budianto berikut Antasari Azhar, yang digadang-gadangi jadi Ketum PSSI.

 

Sumber : Presidium FPII
Editor    : Deni