Kisah Raja Rokok RI, Bentoel Dan Nama Dewa Gitar Ian Antono

oleh -2.184 views
Perusahaan Bentoel Grup, yang didirikan Ong Hok Liong, kelahiran 12 Agustus 1893 di Desa Karang Pacar, Bojonegoro, Jawa Timur. Foto : Istimewa

JAKARTA – Nama Bentoel yang seakan tidak asing ditelinga dulunya sempat punya band cukup kondang di era tahun 1970 an. Ian Antono yang dianggap salah satu dewa gitar Indonesia, adalah salah satu mantan personil Band Bentoel yang cukup tersohor. Dari awal hingga saat ini, nama Bentoel adalah produsen rokok dari Malang, Jawa Timur (Jatim).

Meski Bentoel sendiri seakan berbasis di Malang, pendiri Bentoel yakni Ong Hok Liong, bukan berasal dari Malang, melainkan kelahiran 12 Agustus 1893 di Desa Karang Pacar, Bojonegoro, Jatim. Ong Hok Liong bersama Tjoa Sioe Bian mendirikan pabrik rokok Sejak era 1930 an di Malang.

“Awalnya perusahaan ini bernama Strootjes-Fabriek Ong Hok Liong. Lalu kemudian nama itu diubah menjadi Hien An Kongsie. Dan pabrik itu mulanya memproduksi rokok Tjap Burung, Tjap Klabang, dan Djeroek Manis,” tulis Rudy Badil, dalam Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya (2011:107).

Ong Hok Liong merupakan seorang yang suka berziarah. George Quinn dalam Bandit Saints of Java (2019) menyebut, pada 1954 Ong Hok Liong berziarah ke makam keramat Mbah Djugo di sekitar Gunung Kawi.

Ketika berziarah itu, Ong Hok Liong tertidur di dekat makam dan bermimpi melihat ubi talas. Setelah bangun, dia bertanya kepada juru kunci makam tentang mimpinya, juru makam pun berkata bahwa Ong Hok Liong dapat petunjuk dari Mbah Djugo agar mengganti nama pabriknya.

Kala itu merek rokok yang dibuatnya dirasa masih kurang laku. Pabriknya kemudian mengganti merek rokoknya juga. Nama yang dipilih adalah sebutan Jawa untuk ubi talas, yakni Bentul, yang sebelum ada ejaan yang disempurnakan tahun 1973 masih sering ditulis sebagai Bentoel.

Nama perusahaan yang sejak 1951 adalah NV Pertjetakan Liem An itu, pada 1954 berubah menjadi PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel. Setelahnya usaha rokok Ong Hok Liong berkembang. Sebelum 1960 saja, karyawannya mencapai 3.000 orang. Bentoel tak ragu berpromosi. Dalam iklannya waktu itu, tertulis: “Memang Betul Merokok Tjap Bentoel”.

“Ketika dia meninggal pada tahun 1967 dia adalah seorang multi jutawan dan Bentoel telah tumbuh menjadi rokok pribumi terbesar kedua di Indonesia. Anak-anak Ong Hok Liong lalu menggantikannya. Budhiwijaya Kusumanegara, anak sang pendiri menjadi Presiden Direktur Bentoel,” tulis George Quinn dalam Bandit Saints of Java pada tahun 2019.

Pada 1970-an Bentoel termasuk pemain besar nomor 3 dalam pasar rokok Indonesia. Setelah 1980-an, PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel tidak mampu membayar pinjamannya ke BRI dan Bank Bumi Daya senilai US$ 170 juta. Hutang Bentoel dengan kreditor asing bahkan kemudian menggelembung menjadi US$ 350 juta.

Akhirnya 70% saham keluarga Ong Hok Liong dilego. Hutomo Mandala Putra gagal membelinya. Kemudian Bentoel dipegang Peter Sondakh dan Rajawali Wira Bhakti Utama. Pada tahun 1997, aset Bentoel diserahkan kepada perusahaan baru bernama PT Bentoel Prima dan PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel bubar.

Bentoel Prima pada 2000 ganti nama menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Belakangan saham perusahaan itu dipegang oleh British American Tobacco, sebagai pemegang saham 92,48% dan sisa saham lain dipegang oleh masyarakat. ***

 

 

Sumber : CNBC Indonesia
Editor : Deni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.