Setelah Menuai Polemik Terkait Biaya Konfensasi Sewa Lahan, Gardu Huawei milik PT. Telekomunikasi Indonesia Dibongkar

oleh -86 views
Pasca pembongkaran kedua Gardu Huawei milik PT. Telekomunikasi Indonesia yang berada di pinggir jalan Kampung Sukamulya, RT 01/03, Desa Sindangraja, Kecamatan Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar). Yang dilaksanakan oleh beberapa orang karyawan PT tersebut. Rabu, 08/08/2018. KONTEN INDONESIA / Deni

KAB TASIKMALAYA – Dua Gardu Huawei fasilitas Cellular milik PT. Telekomunikasi Indonesia yang berada di pinggir jalan Kampung Sukamulya, RT 01/03, Desa Sindangraja, Kecamatan Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar), menuai polemik berbagai pertanyaan hangat dari keluarga pemilik lahan terkait kejelasan pembayaran konfensasi sewa lahan yang di duduki kedua gardu tersebut. Hingga akhirnya kedua gardu tersebut dibongkar mendadak oleh pihak karyawan PT. Telekomunikasi Indonesia. Rabu, 08/08/2018.

Pasalnya, kedua Gardu Huawei berlogo RJ dengan seri HONET ONU-F01D500 yang sejak tahun 2005 menduduki lahan kurang lebih 3×4 meter milik warga sekitar yakni keluarga almarhum H. Husein, hingga saat ini tidak ada kejelasan mengenai perpanjangan waktu berikut pembayaran konfensasi sewa lahannya. Sehingga pada hari Senin, 06/08/2018, pihak keluarga pemilik lahan sengaja mendatangi kantor PT. Telekomunikasi Indonesia cabang Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar), guna mempertanyakan kejelasannya.

Deden Handoko, suami salah satu Cucu almarhum pemilik lahan tersebut mengatakan, berdirinya Gardu Huawei di lahan yang kini dipakai bangunan rumah Saya dan keluarga, itu sudah sangat lama sekali. Karena dari mulai berdirinya Gardu Huawei tersebut dinilai tidak ada kejelasan mengenai sistem konfensasi sewa lahannya, sehingga hal tersebut belakangan ini memicu berbagai pertanyaan dari pihak keluarga.

“Awalnya Saya diarahkan oleh salah seorang tantenya Istri Saya, untuk mempertanyakan kejelasan terkait MoU pendirian Gardu Huawei yang berdiri di lahan yang kini dipakai bangunan rumah Saya dan Keluarga. Lahan itu hasil pemberian yang diterima Istri Saya dari Almarhum Kakenya. Gardu Huawei nya berdiri tepat didepan lahan yang tadinya mau Saya jadikan garasi. Karena ada gardu itu, Saya jadi ga bisa bikin garasi.” ungkap Deden, kepada Kontenindonesia.com dihalaman rumahnya. Senin, 06/08/2018.

Menurut sepengetahuan segelintir keluarga Istri Saya, kata Deden, pada sekitar tahun 2005 waktu pendirian Gardu Huawei itu, urusan hal MoU nya memang langsung dengan almarhum Kakenya Istri Saya. Cuma pada saat pendirian Gardu Huawei itu menurut mereka, almarhum Kake Istri Saya diketahui hanya menerima konfensasi atau biaya sewa lahannya dari pihak PT. Telekomunikasi Indonesia, sebesar Rp 2 Juta saja. Yang pada saat itu uang sebesar tersebut langsung diberikan kepada sesepuh disini, yakni Bapak H. Dadang Romansyah, guna keperluan biaya pembangunan sarana keagamaan di kampung ini. Makanya, tadi Saya sengaja mengajak Andri Firmansyah, tetangga Saya, mendatangi kantor PT. Telekomunikasi Indonesia cabang Rajapolah, untuk mempertanyakan kejelasan hal tersebut, kebetulan tetangga Saya itu tau permasalahan awal pendirian Gardu Huawei ini.

“Kata keluarga, masalah MoU pendirian Gardu Huawei itu memang langsung dengan almarhum Kake Istri Saya. Cuma kata mereka, waktu itu almarhum hanya menerima konfensasi Rp 2 Juta saja, uang nya juga pada waktu itu diberikan kepada Sesepuh disini untuk keperluan biaya sarana keagamaan. Kebetulan awalnya Gardu Huawei ini mau didirikan di lahan tetangga Saya, Andri Firmansyah. Dan menurutnya sempat menjanjikan Konfensasi Rp 2 Juta per tahun. Gardu Huawei ini berdiri sejak tahun 2005, berarti sudah 13 tahunan, sementara konfensasinya tidak jelas. PT. Telekomunikasi Indonesia itu perusahaan besar, harusnya profesional dengan hal-hal seperti ini. Nanti juga akan Saya tanyakan lagi ke kantor pusatnya, mau tau bagaimana MoU awalnya.” tegas Deden.

Sementara itu, H. Dadang Romansyah, sesepuh Kampung Sukamulya tersebut mengungkapkan, iya benar, waktu itu semasa almarhum Pak H. Husen masih ada, sempat memberikan uang sebesar Rp 2 Juta, untuk membatu kebutuhan biaya sarana agama di kampung ini, cuma Saya sudah lupa waktu tahun berapa-berapanya, karena sudah lama sekali. Waktu itu beliau bilang, ini ada rejeki dari PT. Telekomunikasi Indonesia, silahkan pakai untuk kebutuhan biaya sarana keagamaan. Waktu itu uang nya sebesar Rp 2 Juta. Ya mungkin itu konfensasi dari pemasangan Gardu Huawei itu. Cuma Saya tidak tau jelas MoUnya seperti apa. Jelas H. Dadang, saat dikunjungi di rumah kediamannya pada hari yang sama.

Terkait hal tersebut, Andri Firmansyah, salah seorang warga terdekat Gardu Huawei mengatakan, awalnya kurang lebih sekitar tahun 2005 silam, seingat Saya pada waktu itu sempat ada beberapa orang mengaku dari pihak PT. Telekomunikasi Indonesia yang beberapa kali sengaja datang kerumah Saya, kedatangannya yakni meminta ijin kepada orang tua Saya untuk mendirikan Gardu Huawei itu didepan halaman rumah. Cuma pada waktu itu, didepan halaman rumah Sayanya ada warung kecil-kecilan tempat jualan, sehingga orang tua Saya tidak memberikan ijin kepada orang-orang itu untuk mendirikan Gardu Huawei di atas lahan Saya.

“Seingat Saya, berdirinya Gardu Huawei itu kurang lebih dari tahun 2005 an. Bahkan pada tahun 2005 itu, awalnya beberapa orang dari pihak PT. Telekomunikasi Indonesia sempat beberapa kali datang ke rumah Saya, meminta ijin kepada orang tua Saya untuk mendirikan Gardu Huawei itu didepan halaman rumah, dengan sistem kontrak lahannya Rp 2 Juta per tahun. Cuma pada waktu itu tempatnya dipakai warung jualan, jadi orang tua Saya tidak memberikan ijin untuk pendirian Gardu Huawei itu,” kata Andri, saat diwawancara Kontenindonesia.com dilokasi Gardu Huawei tersebut.

Kalau dihitung secara waktu dikatakan Andri, dari tahun 2005 sejak berdirinya Gardu Huawei itu dilahan milik almarhum yang kini dibangun rumah Deden Handoko, hingga sekarang sudah tahun 2018, berarti Gardu Huawei itu sudah sekitar 13 tahun menduduki lahannya. Sementara, menurut Deden Handoko suaminya Cucu dari almarhum berikut beberapa orang sodara istrinya, jenis perpanjangan waktu dan pembayaran konfensasi sewa lahan yang dipakai Gardu Huawei itu, sampai sekarang tidak ada kejelasan. Makanya, tadi Deden ngajak Saya ke Kantor PT. Telekomunikasi Indonesia Cabang Rajapolah untuk menanyakan kejelasan hal tersebut. Kata Andri.

Menurut seorang wanita berinisial “Y” karyawan PT. Telekomunikasi Indonesia Kota Tasikmalaya mengatakan, sudah di bicarakan kepada bagiannya pak, seblmnya memang sudah mendapat info terkait Gardu Huawei itu katanya. Saat ini sedang di tindak lanjuti. Pimpinan bagian hal tersebut tidak bisa ditemui pak, kebetulan beliaunya sedang ada acara di Bandung, saya barusan ngobrol sama stap nya. Kata Y, saat dikonfirmasi via pesan singkat WhatsApp sebelumnya.

Salah seorang karyawan PT. Telekomunikasi Indonesia yang membongkar Gardu Huawei tersebut juga mengatakan, kami hanya ditugaskan untuk membongkar kedua gardu ini, kalo masalah MoU konfensasinya silahkan tanyakan langsung ke kantor PT. Telekomunikasi Indonesia yang ada di Kota Tasikmalaya. Ungkapnya. ***

 

 

 

Penulis : Deni