Wartawan di Sumut Alami Penganiayaan, Berikut Pernyataan Sikap Ketua Presidium FPII

oleh -979 views
Jeffry Barata Lubis, seorang wartawan yang alami pengeroyokan kekerasan pisik disebuah Coffee Shop di Kota Penyambungan, Sumatera Utara (Sumut) pada Jum'at 04/03/2022) malam. Foto : Istimewa

JAKARTA – Forum Pers Independen Indonesia (FPII) merupakan Organisasi Pers yang dikenal kerap mengkritisi tindakan kriminalisasi terhadap Jurnalis (Wartawan), terlebih terhadap wartawan yang mendapat kekerasan saat melaksanakan kegiatan Jurnalistiknya. Peristiwa pengeroyokan yang dialami Jeffry Barata Lubis dan juga kriminalisasi terhadap beberapa Jurnalis lainnya yang terjadi baru-baru ini, membuat FPII kembali angkat bicara.

“Masalah pengeroyokan yang menimpa Jeffry Barata Lubis dan juga kriminalisasi terhadap beberapa Jurnalis lainnya, saat ini sudah ditangani pihak Polres Mandailing, Sumatera Utara. Semoga Polres Mandailing bertindak sesuai Hukum yang berlaku tanpa tebang pilih. Karena FPII sangat mengecam keras perlakuan oknum-oknum yang notabene adalah bodyguard atau orang-orang suruhan bertindak semena-mena terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugas.” Demikian dikatakan Ketua Presidium FPII, Dra. Kasihhati, seperti rilis resminya yang diterima Konten Indonesia, Minggu 06/03/2022 siang.

Kasihhati berharap, agar pihak Aparat Penegak Hukum berwenang yang dalam hal ini Kepolisian, bisa memproses laporan tersebut secara profesional dan akuntabel sebagai mana mestinya. Dalam catatan Presidium FPII, di Sumatra Utara (Sumut), banyak sekali kasus penganiyaan dan pembunuhan wartawan, seperti yang terjadi pada Mara Salem Harahap, wartawan media on-line yang dibunuh karena pemberitaan yang pelakunya sudah ditahan oleh pihak kepolisian.

“Saya berharap, pihak APH berwenang dalam hal ini adalah Kepolisian agar memproses laporan tersebut secara profesional dan akuntabel sebagai mana mestinya. Catatan Presidium FPII, di Sumut banyak sekali kasus penganiyaan, pembunuhan wartawan, seperti yang terjadi pada Mara Salem Harahap, wartawan media on-line yang dibunuh karena pemberitaan yang pelakunya sudah ditahan oleh pihak kepolisian. Kekerasan masih saja dilakukan.” Ungkap Kasihhati.

Kasihhati berujar, tindak kekerasan berupa perampasan alat kerja, pemukulan, kriminalisasi dan intimidasi terhadap wartawan, menandakan masih banyak orang tidak mengerti aturan undang-undang. Wartawan itu, dalam menjalankan tugasnya sudah jelas dilindungi undang-undang pers 40 tahun 99, dan juga dilindungi undang-undang dasar 1945. Kekerasan terhadap jurnalis (wartawan-red) harus secepatnya dihentikan.

“Terjadinya kekerasan perampasan alat kerja, pemukulan, kriminalisasi dan intimidasi terhadap wartawan, menandakan masih banyak orang yang tidak mengerti aturan undang-undang. Wartawan dalam menjalankan tugasnya sudah jelas dilindungi undang-undang pers 40 tahun 99, dan juga dilindungi undang-undang dasar 1945. Kekerasan terhadap wartawan harus secepatnya dihentikan. Aparat harus bertanggung jawab penuh atas tindakan oknum-oknum yang dinilai sudah kelewatan.” Ujarnya.

Kami tegas Kasihhati, bukan teroris, bukan musuh dan bukan kriminal. Kami hanya menjalankan tugas, jangan main dihantam dong, jangan represif dong kepada kami. Saya meminta kepada Kapolri, Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, agar bisa memerintahkan jajarannya dibawah untuk melindungi insan pers yang terluka dan tersakiti oleh oknum-oknum yang merasa kebal hukum.

“Kapolri harus menindak tegas jika ada anak buahnya dilapangan yang telah berlaku keras dan arrogan kepada jurnalis. FPII sebagai salah satu organ yang menaungi para Jurnalis dan Perusahaan Pers, juga mendesak Polri untuk menyelesaikan persoalan kekerasan yang dilakukan oknum-oknum di lapangan tanpa pandang bulu.” Tegas Kasihhati.

Berikut pernyataan sikap Presidium FPII:

1. Copot Kapolres atau Kapolda yang tidak mampu melindungi jurnalis saat bertugas di lapangan.

2. Pecat oknum aparat yang terbukti melakukan kekerasan terhadap Jurnalis yang sedang bertugas.

3. Terapkan pasal 18 dalam UU Pers No. 40 thn 1999 terhadap siapapun yang menghalang-halangi tugas Jurnalis. Hal ini sebagai efek jera dikemudian hari.

4. Hentikan perampasan alat kerja jurnalis dan tindak kekerasan lainnya. Jurnalis dilindungi Undang Undang Pers 40 thn 1999 dalam menjalankan tugas, tolong pahami itu. Mari kita saling menghargai dalam melaksanakan tugas masing-masing.

5. Hukum seberat-beratnya Pelaku maupun Dalang dari Penganiaya dan Pembunuh wartawan.

“Hukum adalah Panglima tertinggi, tidak ada orang yang kebal hukum. Oleh sebab itu jangan bertindak semaunya dengan main hakim sendiri,” pungkas Kasihhati.

Untuk diketahui, Tindak kekerasan dan juga pengeroyokan dialami Jeffry Barat Lubis, disebuah coffee shop di Kota Penyambungan, Sumatera Utara (Sumut) pada Jum’at 04/03/2022) malam, menurut visual dari rekaman cctv yang beredar luas dimedia sosial, pengeroyokan terhadap Jeffry Barat Lubis tampak dilakukan oleh beberapa orang.

Akibat pengeroyokan tersebut, Jeffry Barata Lubis alami Luka-luka diwajah dan memar dibadan. Atas terjadinya insiden itu, Jeffry Barata Lubis sudah melaporkan para terduga pelaku penganiayaan ke Polres Mandailing, Sumatera Utara, hal itu dibenarkan oleh Kasat Reskrim Polres Mandailing.

 

Reporter : Tim
Sumber : Presidium FPII